Langsung ke konten utama

JANGAN MEMANDANG ALLAH LAMBAT MEMBERIKAN NI'MAT, TAPI PANDANGLAH KELAMBATAN ANDA DALAM BERKHIDMAT


                "Janganlah Anda memandang lambat datangnya karunia Allah kepada Anda, tetapi hendaknya Anda memandang kelambatan diri Anda untuk menghadap kepada Tuhan". Pernyataan diatas senada  dengan "Janganlah Anda menuntut,mengapa permintaan Anda tertunda dan lambat pengabulannya, tetapi tuntutlah diri Anda mengapa terlambat dan suka mengabaikan kewajiban Anda kepada Allah Ta'ala", Janganlah kita merasa, mengapa pemberian Allah itu datang lambat, tetapi rasakan dan sadarilah akan kelambatan diri kita dalam menjalankan kewajiban kita, serta pengabdian kita kepada Allah Ta'ala."

      Syaikh Ibnu Athaillah berkata: HUQUUQUN FIL AWQAATI YUMKINU QADHAA-UHAA WA HUQUQUL AWQAATI LAA YUMKINU QADHAA-UHAA IDZMAA MINAL WAQTIN YARIDU ILLAA WA LILLAAHI  'ALAYKA FII HAQQUN JADIIDUN WA AMRUN AKIIDUN FAKAYFA TAQDHII FIIHI HAQQA GHAYRIHI WA ANTA LAM TAQDHI HAQQALLAAHU FIIH artinya :" Kewajiban-kewajiban didalam waktu, masih memungkinkan untuk di qadha', tetapi haq-haq yang disediakan oleh Allah dalam waktu tidak dapat diulanginya, sebab tiada suatu waktu melainkan ada haq kewajiban yang baru dan perintah yang ditekankan, maka Bagaimanakah Anda akan menyelesaikan haq lainnya, sedangkan Anda belum menyelesaikannya haq Allah dalam waktu itu."

            Nah, Mungkin kalian fahamkan maksud arti ungkapan Ibnu Athaillah. Disini kita ditegaskan bahwa Kewajiban didalam waktu seperti tugas-tugas peribadatan zahir seperti Shalat, puasa dan lain sebagainya. " Barangsiapa melewatkan kewajiban-kewajiban yang sudah ditentukan waktunya itu, dan tidak mengerjakannya dalam waktunya itu, maka Masih memungkinkan baginya untuk mengganti (meng-qadhanya) diwaktu yang lain". Tetapi, haq-haq waktu itu sendiri yaitu, apa yang disediakan oleh Allah untuk waktu itu, jika tidak diambil, tidak dilaksanakan menurut tuntunannya pada waktu itu, maka Tidak dapat di qadha'inya, karena waktu itu terus melaju tanpa pernah kembali barang sesaatpun. Bila apa yang menjadi haq waktu pada saat itu terlewatkan atau dengan kata lain, waktu itu tidak terisi sebagaimana yang semestinya, berarti-
Kita kehilangan sesuatu yang harus dikerjakan diwaktu itu.

            Oleh karena itu, sebab itu tertinggalnya haq waktu yang pertama, tidak dapat diganti pada waktu yang kedua, karena apa yang menjadi haq waktu kedua, bukan apa yang menjadi haq waktu yang pertama.
Sayid Abu Abbas Al-Mursi ra. berkata : "Waktu yang berlalu bagi setiap hamba itu ada empat yaitu :
- Waktu mendapat ni'mat.
- Waktu mendapat cobaan atau musibah.
- Waktu keta'atan.
- Dan waktu kema'siatan.

             Pada tiap-tiap waktu ada haq bagi Allah yang menjadi kewajiban bagi Anda. " Barangsiapa yang waktunya terisi dengan keta'atan, maka hendaklah ia memandang bahwa itu sebagai anugerah Allah yang telah memberi petunjuk dan hidayah kepadanya. Barangsiapa yang waktunya terisi dengan kema'siatan, maka adalah menjadi keharusan baginya untuk segera beristighfar, memohon ampun kepada Allah Ta'ala. Menyesali perbuatan dosa itu, dan beri'tiqad untuk tidak mengulanginya lagi diwaktu-waktu mendatang. Barangsiapa diwaktu mendapatkan ni'mat, maka ia harus bersyukur kepada Allah Ta'ala. Dzat yang memberi ni'mat. Dan barangsiapa yang diwaktu mendapat musibah dan cobaan, maka ia harus ridha terhadap qadha dan bersabar dalam menghadapinya."

            Rasulullah saw. bersabda : MAN U'THIYA FASYAKARA WABTULIYA FASHABARA WA ZHULIMA FAGHAFARA WA ZHALAMA FASTAGHFAMAN U'THIYA FASYAKARA WABTULIYA FASHABARA WA ZHULIMA FAGHAFARA WA ZHALAMA FASTAGHFAR.
Artinya: "Barangsiapa yang diberi lalu bersyukur, diuji lalu bersabar, dianiaya lalu mema'afkan dan berdosa lalu minta ampun".
Rasulullah saw. diam beberapa sejenak, maka ada sahabat yang menyela bertanya: "Kemudian apakah baginya ya Rasulullah?" Nabi saw. menjawab : "ULAA-IKA LAHUMUL AMNU WA HUM MUHTADUUN" artinya, "Merekalah orang-orang yang mendapatkan kesejahteraan, dan orang-orang yang mendapat petunjuk yaitu Merekalah orang-orang yang mendapatkan keselamatan diakhirat dan mendapatkan petunjuk didunia".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KHUSYU' DAN HUDHUR

"Sungguh, berbahagialah orang-orang mu'min yakni mereka  yang khusyu' dalam shalatnya" (QS. Al-Mu'minun 23 : 1-2)           Disini kita mengutip lagi tentang khusyu' dan hudhur, agar Anda memahami tentang maksud makna arti kedua ini, biar Anda jelas apa itu khusyu' dan apa itu hudhur. Mari simak kembali, biar Anda puas memahami maksudnya. KHUSYU' Ketahuilah, Banyak para ulama kita yang beda pendapat memaknai khusyuk itu pendapat pertama menyebut bahwa Khusyu' dalam shalat bisa diperoleh dengan memejamkan mata, merendahkan suara, dan tidak melirik kekanan dan kekiri. Pendapat yang lain mengatakan bahwa Bila shalat sudah dimulai hendaklah ia tidak mempedulikan disekelilingnya, atau tidak ada orang sebelah kanannya maupun disebelah kirinya, serta menganggap tidak ada pekerjaan lain yang lebih penting selain shalat. Pendapat yang lain pula mengatakan bahwa Khusyu' dapat dicapai dengan mengerahkan ingatan hanya pada Allah dengan seg...

DUA KENI'MATAN BESAR

Dua macam keni'matan. Tiada satu makhluq pun yang terlepas dari keduanya, yaitu Ni'mat ciptaan (al-ijad). Dan ni'mat kelestarian (al-imdad). Disini sedikit kami menguraikan tentang dua hal macam keni'matan yang Allah berikan kepada kita. Nikmat penciptaan (al-ijad) dan ni'mat pemeliharaan atau pelestarian (al-imdad) adalah   Merupakan dua ni'mat yang biasa dibutuhkan oleh setiap yang maujud. Dengan ni'mat penciptaan (al-ijad), membuat sesuatu yang semula tidak ada menjadi ada. Setelah sesuatu tercipta, maka pasti membutuhkan pemeliharaan, pengembangan dan pelestarian akan keberadaan dan eksistensinya. Itulah ni'mat " al-imdad ". AN'AMA 'ALAYKA AWWALAN BIL IIJAADI WA TSAANIIHAA BI TAWAALIIL IMDAADI. Artinya :   " Kenik'matan dari Allah Ta'ala yang pertama adalah Ni'mat ijad. Seterusnya adalah ni'mat imdad, yang terus-menerus disempurnakan." Ketahuilah, Wujud dari segala yang diciptakan (makhluq), te...